Jumat, 15 April 2016

karakteristik negara yang sedang berkembang



KARAKTERISTIK NEGARA YANG SEDANG BERKEMBANG
Michael P Todaro dan Burhanuddin Abdullah



Klik Disini untuk Kembali ke Materi Perkuliahan

Meskipun setiap negara sedang berkembang memiliki perbedaan antar negara dan klasifikasinya, namun sebagian besar memiliki tujuan yang sama. Tujuan mereka diantaranya adalah :
  • Memerangi Kemiskinan
  • Mengurangi Ketidak merataan
  • Mengurangi Pengangguran
  • Memenuhi Standar minimum pendidikan, kesehatan, perumahan dan makanan bagi masyarakat
  • Memperluas kesempatan di bidang ekonomi dan sosial serta menempa persatuan bangsa
Selain tersebut di atas terdapat pula kesamaan masalah yang dihadapi tetapi dengan kadar yang berbeda-beda yaitu :
  1. Kemiskinan yang kronis dan meluas
  2. Tingkat pengangguran yang tinggi dan cenderung meningkat terus
  3. ketidakmerataan distribusi pendapatan yang semakin melebar
  4. Rendahnya tingkat produktivitas di sektor pertanian
  5. Kesempatan ekonomi antara desa dan kota
  6. Kurangnya pelayanan kesehatan dan pendidikan
  7. Memburuknya neraca pembayaran dan hutang luar negeri
  8. meningkatnya ketergantungan teknologi terhadap luar negeri
  9. Lemahnya kelembagaan dan sistem penilaian
Tinjauan tentang perbedaan struktur ekonomi dunia ketiga


Terdapat tujuh komponen utama perbedaan diantara negara sedang berkembang :
  1. Ukuran Negara (Geografis, Penduduk dan pendapatan)
  2. Evolusi Sejarah
  3. Sumberdaya manusia dan fisik
  4. Kepentingan relatif sektor pemerintahan dan swasta
  5. Sifat struktur industri
  6. Tingkat ketergantungan terhadap ekonomi luar negeri dan kekuasaan politik
  7. Pembagian kekuasaan, kelembagaan dan politik luar negeri
Ukuran negara dan Tingkat Pendapatan


Luasnya suatu negara, penduduk serta tingkat pendapatanperkapita merupakan determinan potensi ekonomi yang penting dan faktor yang membedakan antar negara sedang berkembang. Diantara 143 negara berkembang anggota PBB, 104 negara diantaranya berpenduduk kurang dari 15 juta jiwa dan 75 negara berpenduduk kurang dari 5 juta jiwa. Negara besar yang padat penduduknya hidup berdampingan dengan negara kecil yang berpenduduk sedikit, negara dengan wilayah yang luas biasanya memiliki keuntungan dari tersedianya macam-macam sumber daya, potensi pasar yang luas dan kurang bergantung kepada produk dan bahan baku dari luar, tetapi meski demikian timbul permasalahan dari pengawasan administratif kesatuan nasional dan ketidak sinambungan regional dimana ketidakmerataan pendapatan nasional menjadi persoalan. Sehingga tidak menjamin bahwa negara dengan luas wilayah yang besar akan menciptakan pendapatan yang besar bagi masyarakatnya misalnya saja India dengan penduduk sekira 140 juta jiwa ternyata tingkat pendapatan perkapita pertahun sebesar $265 US, sedangkan Singapura dengan penduduk sekira 2,6 juta jiwa berpendapatan perkapita pertahun mencapai $5.900US (data tahun 1993)

Latar Belakang Sejarah


Kebanyakan negara Asia dan Afrika pernah dijajah oleh negara Erofa seperti Inggris, Perancis, Belgia, Belanda, Jerman, Portugal dan Spanyol. Struktur Perekonomian, pendidikan dan lembaga sosial negara tersebut dibentuk oleh bekas negara penjajah. Sehingga setiap negara yang pernah dijajah oleh negara yang berbeda-beda akan memiliki kebudayaan, pembentukan kelembagaan dan sosial yang berbeda-beda pula. Seperti India yang dijajah oleh Inggris, Philipina yang dijajah Spanyol dan Amerika, Vietnam dijajah oleh Perancis dan Indonesia yang dijajah oleh Belanda.

Sumber Fisik dan Manusia


Potensi pertumbuhan ekonoi suatu negara sebagian besar dipengaruhi oleh sumberdaya fisik (tanah, mineral, dan bahan mentah lainnya) serta sumber daya manusia (baik jumlah maupun tingkat pendidikan). Sumber daya manusia tidak terbatas pada jumlah dan pendidikannya saja tetapi juga meliputi pandangan kebudayaan mereka, sikap terhadap pekerjaan dan keinginan untuk memperbaiki diri. selanjutnya tingkat kecakapan administratif seringkali menentukan kemampuan sektor pemerintah dalam mengubah struktur produksi dalam waktu yang tepat. Disini seseorang akan terlibat dengan masalah rumitnya hubungan antar kebudayaan, tradisi, agama, kesukuan dan pemecahan atau penyatuan suku. Jadi, bentuk sifat sumberdaya manusia dalam suatu negara merupakan determinan struktur ekonomi yang penting.

Peranan Sektor Pemerintah dan Swasta


Sebagian besar negara berkembang menganut sistem ekonomi campuran, yaitu sektor pemerintah dan swasta ikut campur dalam menggunakan sumber daya. Pembagian antar dua sektor tersebut masing-masing secara relatif umumnya ditentukan oleh situasi historis dan politis.

Besarnya pemilikan oleh pihak asing disektor swasta merupakan variabel yang penting untuk menentukan perbedaan diantara negara negara berkembang, Sektor swasta besar yang dimiliki oleh pihak asing biasanya mendorong timbulnya masalah serta kesempatan politis dan ekonomis yang ditemui. Misalnya negara Afrika yang seringkali mengalami kekurangan sumber daya manusia terdidik cenderung lebih menitik beratkan aktivitas sektor pemerintahan dan perusahaan negara berdasarkan asumsi bahwa kekurangan sumber daya terdidik dapat diatasi dengan koordinasi daripada melalui pemecahan administratif dan kewirausahaan.


Struktur Industri


Sebagian besar negara berkembang merupakan negara agraris, pertanian baik untuk keperluan konsumsi sendiri maupun komersial, merupakan aktivitas ekonomi utama ditinjau dari sudut distribusi penggunaan angkatan kerja maupun ditinjau daru proporsi sumbangan dalam GNP.

Peranan sektor manufaktur dan jasa diantara negara berkembang juga memperlihatkan perbedaan yang besar. Walaupun terdapat persamaan masalah namun strategi pembangunan di negara berkembang berbeda-beda, tergantung kepada sifat alam, struktur dan tingkat saling ketergantungan antara sektor primer (pertanian, kehutanan, perikanan), sektor industri sekunder (umumnya bidang manufaktur) dan sektor industri tersier (perdagangan, keuangan, transportasi dan jasa).



Ketergantungan Terhadap Luar negeri; Ekonomi, Politik dan Kebudayaan

Bagi negara berkembang, ketergantungan tersebut sangat tinggi tingkatnya, bahkan beberapa kasus menyentuh pada hampir semua tingkat kehidupan. Kebanyakan negara kecil sangat tergantung pada perdagangan luar negeri dengan negara maju. Hampir semua negara kecil tergantung pada impor teknologi produksi yang umumnya tidak cocok dengan kondisi negara tersebut.


Walaupun tingkat ketergantungan ekonomi sangat tinggi, yakni dalam bentuk transfer barang dan teknologi, namun ada juga keuntungannya yaitu berupa transmisi kelembagaan (umumnya sistem pendidikan dan pelayanan kesehatan), nilai-nilai, pola konsumsi, serta sikap hidup, bekerja dan bersikap diri.



Struktur Politik, Kekuasaan dan Kelompok Penekan


Konstelasi kepentingan dan kekuasaan diantara berbagai kelompok masyarakat dikebanyakan negara berkembang lahir sebagai akibat sejarah politik ekonomi dan sosial yang berbeda satu dengan lainnya. Tanpa memandang pembagian kekuasaan diantara angkatan bersenjata, kaum industrialis, dan tuan tanah Amerika Latin, kaum politisi dan pejabat tinggi pemerintahan di Afrika, para raja minyak dan mogul-mogul keuangan di Timur Tengah, rentenir dan industrialis Asia yang kaya, kebanyakan negara berkembang secara langsung atau tidak langsung diperintah oleh segelintir elit dibandingkan dengan apa yang terjadi dinegara maju.


Oleh karena itu, setiap perubahan ekonomi dan sosial memerlukan dukungan dari kelompok elit, baik melalui persuasi meupun paksaan dan jika perlu menyingkirkan mereka dengan kekuatan. Jalan manapun yang ditempuh, pembangunan ekonomi dan sosial tidak mungkin dilakukan tanpa mengubah lembaga-lembaga sosial, politik, dan ekonomi suatu negara (misalnya sistem sewa tanah, struktur pendidikan, hubungan pasar tenaga kerja, undang-undang hak milik, pembagian dan pengawasan harta keuangan dan fisik, undang-undang perpajakan dan warisan dan peraturan perkreditan).

CIRI-CIRI UMUM NEGARA BERKEMBANG


Ciri-ciri umum negara berkembang diklasifikasikan sebagai berikut :
  1. Standar Hidup yang Rendah
  2. Produktivitas yang rendah
  3. Tingkat Pertumbuhan penduduk dan beban tanggungan yang tinggi
  4. tingkat pengangguran yang meningkat serta kekurangan pekerjaan
  5. Ketergantungan terhadap produksi pertanian dan barang ekspor primer
  6. Tingkat ketergantungan dan kepekaan dalam hubungan internasional



















Perubahan Struktur Ekonomi Di Negara Sedang Berkembang

PERUBAHAN STRUKTUR EKONOMI DI NEGARA SEDANG BERKEMBANG

Pembangunan ekonomi untuk periode jangka panjang di suatu negara, membawa perubahan yang sangat esensial terutama dalam struktur ekonomi negara tersebut. Perubahan itu dari ekonomi tradisional yang menitikberatkan pada sektor pertanian ke sektor ekonomi modern yang didominasi oleh sektor industri sebagai mesin utama pembangunan.

à  Baca teori pembangunan Rostow (5 tahap: masyarakat tradisional, prakondisi untuk tinggal landas, lepas landas, bergerak ke kedewasaan, dan konsumsi massal yang tinggi)
à  Baca teori pembangunan pertumbuhan (Growth) --> fokus: industri, nilai: berpusat pada industri, indikator: ekonomi makro, peran pemerintah: entrepreneur, dan sumber utamanya: Modal

Perubahan struktur ekonomi tersebut terjadi di hampir semua negara, meskipun pola dan prosesnya dapat berbeda antar negara atau kelompok negara.

Data Bank Dunia  pada tahun 1980:
ü  rata-rata nilai tambah dari pertanian sekitar 7% dari PDB dunia,
ü  sedangkan  nilai tambah dari industri primer (pengilangan minyak) dan sekunder (manufaktur) sebesar 38% dan
ü  manufaktur sendiri hanya 23%.

Data pada tahun 1995:
ü  Sumbangan terhadap pembentukan PDB sektor pertanian sebesar 5% à perannya semakin kecil dalam perekonomian dunia
ü  Sumbangan sektor industri primer dan sekunder juga menglami penurunan



Mengapa demikian?
Ø  Karena laju pertumbuhan output dari kedua sektor tersebut relatif lebih rendah dibanding laju pertumbuhan output sektor tersier (jasa).


Perubahan dan transisi ekonomi di banyak negara memang sangat cepat, selama lebih tiga dekade terakhir, apa sebabnya?

  1. Kondisi dan Struktur Awal Ekonomi Dalam Negeri
Bila suatu negara pada awal pembangunan ekonomi/industrialisasinya telah memiliki industri dasar yang lebih kuat (seperti: mesin, baja dan besi), maka industrialisasi semakin cepat, sementara negara yang memiliki industri ringan (seperti: tekstil, pakaian jadi, alas kaki, makanan dan minuman), proses industrialisasinya cenderung lambat.

  1. Besarnya Pasar Dalam Negeri
Besarnya pasar dalam negeri ditentukan oleh kombinasi antara jumlah populasi dan tingkat pendapatan riil per kapita. Jumlah penduduk yang besar menjadi salah satu faktor insentif pertumbuhan kegiatan ekonomi /industrialisasi

  1. Ciri Industrialisasi
Ciri industrialiasasi ini meliputi cara pelaksanaan (strategi yang diterapkan), jenis industri unggulan, pola pembangunan industri dan insentif yang diberikan

  1. Keberadaan SDA
Negara-negara yang kaya SDA, pertumbuhan industrialisasinya lebih rendah atau lambat dibanding dengan negara-negara yang miskin SDA. Mengapa? Karena negara kaya SDA cenderung tidak melakukan diversifikasi ekonomi (perubahan struktur) daripada negara yang miskin SDA.

  1. Kebijakan atau  Strategi Pemerintah Yang Diterapkan
Pada industrialisasi di negara yang menerapkan kebijakan   Substitusi Impor (SI)  dan kebijakan perdagangan luar negeri yang protektif (Indonesia pada era Orde Baru), berbeda dengan negara yang menerapkan kebijakan Promosi Ekspor  (PE) dalam mendukung perkembangan industrinya (Singapura dan Hing Kong)


FAKTOR-FAKTOR PENYEBAB PERUBAHAN STRUKTUR EKONOMI

1.        Faktor-faktor dari sisi permintaan agregat (AD)
Faktor yang paling dominan adalah perubahan permintaan domestik, sebagai akibat dari kombinasi antara peningkatan pendapatan riil per kapita dan perubahan selera masyarakat (konsumen). Perubahan permintaan bukan hanya pada peningkatan jumlah (konsumsi), tapi juga perubahan komposisi barang-barang yang dikonsumsi.

Teori Engel à Apabila pendapatan riil masyarakat meningkat, maka pertumbuhan permintaan barang-barang non-makanan (seperti: alat-alat rumah tangga dari elektronik dan baju) akan lebih besar daripada pertumbuhan permintaan barang makanan.

Apa dampaknya?
Perubahan selera konsumen à
Ø  memperbesar pasar (permintaan) bagi barang-barang yang ada
Ø  memperluas segmentasi pasar yang ada (diversifikasi)
Ø  menciptakan pasar bagi bar`ng baru non-makanan
Ø  menggairahkan pertumbuhan industri baru.
Ø  Meningkatkan pertumbuhan output industri

Chenery (1992) à proses transformasi struktural akan mencapai tarafnya yang paling cepat bila pergeseran pola permintaan domestik ke arah output industri manufaktur diperkuat oleh perubahan yang serupa dalam komposisi perdagangan luar negeri atau ekspor sebagaimana yang terjadi di NIC’s

2.        Faktor-faktor dari sisi penawaran agregat  (AS)
Faktor-faktor ini adalah
q   pergeseran keunggulan komparatif
§  Chenery (1992) dalam kaitan ini mengemukakan bahawa à proses transformasi struktural akan berjalan lambat bahkan adakalanya mengalami kemunduran.
§  Artinya à terjadi penurunan kontribusi output industri manufaktur  pada pembentukan PDB, jika keunggulan komparatif tidak berjalan sesuai dengan arah pergeseran pola permintaan domestik ke arah output industri manufaktur dan pola perubahan dalam komposisi ekspor. Terjadi di Indonesia dan Venezuela dan negara penghasil mineral lainnya.
q   perubahan/progres teknologi
q   peningkatan pendidikan atau kualitas sumberdaya manusia (SDM) à keberasilan negara-negara Asia Timur, kususnya dai kelompok NICs, sering disebut kualitas tenaga kerja meeka merupakan salah satu faktor penentuyang sangat penting –ketekunan, loyalitas, kerja keras dan penghargaan yang tinggi terhada pendidikan dan faktor budaya yang seing diabaikan dalam pembangunan ekonomi oleh negara sedang berkembang sepert Indonesia.
q   penemuan materi-materi baru untuk produksi
q   akumulasi barang modal
Apa dampak dari lima (5) faktor itu?
Ø   memungkinkan untuk dilakukan inovasi dalam produk atau/dan proses produksi (seperti: personal computer, hand-phone dan IT) à dapat meningkatkan pangsa output  dalam pembentukan PDB
Ø   memungkinkan pertumbuhan produktivitas sektoral dari faktor-faktor produksi yang digunakan (total factor productivity)
q   realokasi investasi dan resource utama, termasuk teknologi dan tenaga kerja (SDM) dari satu sektor ke sektor yang lain.
Apa sebab?
Ø  ada perbedaaan produktivitas atau pendapatan riil antarsektor
Ø  kemiskinan di salah satu sektor
Ø  kebijakan pemerintah yang memihak atau menguntungkan sektor tertentu. à misalnya: kebijakan industrialisasi dan perdagangan  luar negeri yang mengutamakan pertumbuhan output di sektor industri. 

3.        Intervensi pemerintah di dalam kegiatan ekonomi dalam negeri

v  Dari  sisi   AD à
·         Kebijakan yang berpengaruh langsung  misalnya pajak penjualan yang menjadikan harga jual barang yang bersangkutan mengalami peningkatan (mahal) à akibatnya akan mengurangi permintaan terhadap barang tersebut dan tergantung pada elastisitas harga terhadap permintaan.
·         Kebijakan tidak langsung misalnya pengurangan pajak pendapatan.  Secara teoritis, dengan asumsi bahwa faktor-faktor berpengaruh lainnya  tetap tidak berubah, àdapat meningkatkan permintaan masyarakat (konsumsi)  terhadap produk-produk dari sektor-sektor tertentu, seperti manufaktur dan jasa.

v  Dari sisi AS à
·         Kebijakan yang berpengaruh langsung terhadap perubahan  struktur ekonomi misalnya pemberian insentif  bagi sektor industri.
·         Kebijakan tidak langsung melalui pengadaan infrastruktur. Intervensi ini mempengaruhi sisi AS

4.        Sumber Internal (domestik) dan Sumber Eksternal (dunia)
q  Sumber internal meliputi faktor-faktor dari sisi AD dan sisi AS serta kebijakan pemerintah seperti tersebut.
q  Sumber eksternal adalah perubahan teknologi dan struktur perdagangan global sebagai akibat peningkatan pendapatan dunia  dan peraturan-peraturan mengenai  perdagangan internasional. Misal: perubahan struktur ekspor indonesia selama masa Orde Baru dari komoditas primer ke ekspor manufaktur.

PERUBAHAN STRUKTUR INDUSTRI

q  Motor utama transformasi struktur ekonomi  suatu negara bukan hanya  pergeseran dari sektor pertanian ke sektor  industri.
q  Proses transformasi tersebut juga mencakup pergeseran struktur industri  dari waktu ke waktu, misalnya dengan dimilikinya keunggulan komparatif  akibat pergeseran dari kegiatan produksi yang bersifat padat karya dan berteknologi rendah ke arah kegiatan produksi yang lebih padat modal dan berteknologi tinggi.
à pergeseran itu dapat dalam berbagai arti: beragam jenis atau kelompok barang menurut sifat penggunaannya, jenis kandungan inputnya atau menurut orientasi pasar.
à Di Indonesia perubahan struktur ekonomi yang cukup pesat dengan diversifikasi industri sejak tahun 1983.
Karakteristik Negara Sedang Berkembang
Todaro & Smith (2003) mengemukakan ada enam karakteristik negara sedang berkembang, yaitu:
      1.            Standar hidup yang rendah. Hal ini dapat dilihat dari:
·         Kemiskinan yang kronis
·         Kondisi perumahan yang tidak memadahi
·         Sarana kesehatan yang terbatas
·         Tingkat pendidikan yang rendah 
·         Tingkat kematian bayi yang tinggi 
·         Tingkat harapan hidup yang rendah
·         Adanya perasaan tidak aman, dan 
·         Rasa putus asa.
      2.            Tingkat produktifitas rendah.
Seperti konsep fungsi produksi, tingkat output dengan kombinasi-kombinasi input pada tingkat teknologi tertentu. Pada NSB, tingkat produktivitas tenaga kerjanya rendah sebab tidak adanya input komplementer seperti modal fisik atau Manajemen Sumber Daya Manusia (MSDM) yang baik.
      3.            Tingkat pertumbuhan penduduk dan beban tanggungan yang tinggi.
Masalah klasik yang dihadapi NSB adalah laju pertumbuhan penduduk yang tinggi. Hal ini disebabkan karena dua faktor, yaitu:
a.       Tingkat kelahiran kasar
b.      Tingkat kematian
Selain itu, masalah kependudukan lain yang dihadapi NSB adalah karena tingginya laju pertumbuhan penduduk, hal ini menyebabkan proporsi penduduk di bawah usia 15 tahun (usia non-produktif) cukup tinggi. Kondisi ini jelas berdampak pada tingginya rasio beban tanggungan.
      4.            Tingginya tingkat pengangguran.
Karena tingkat SDM di NSB rendah, hal ini akan memicu timbulnya dua fenomena, yaitu pengangguran terselubung dan pengangguran terbuka.


      5.            Ketergantungan terhadap produksi pertanian dan ekspor produk primer.
Data Bank Dunia (2006) menyebutkan bahwa sebagian besar penduduk NSB tinggal di pedesaan dan menjadikan pertanian sebagai basis sektor perekonomian. Padahal, menurut Bank Dunia sektor pertanian tidak memberi kontribusi yang besar terhadap GDP di NSB, walaupun sektor pertanian telah menyerap sebagian besar tenaga kerjanya.
Oleh karena itu, ada dua kebijakan yang perlu diambil. Yaitu, revitalisasi pertanian dan transformasi struktural yang dinamis (transformasi yang tidak menyebabkan adanya ketimpangan antar sektor).
      6.            Dominasi negara maju, ketergantungan terhadap negara maju, dan vulnerabilitas dalam hubungan-hubungan internasional.
Faktor yang menyebabkan rendahnya standar hidup di NSB adalah tingginya ketimpangan, baik di bidang ekonomi maupun politik. Ketimpangan tersebut berupa dominasi negara kaya dalam mengendalikan pola perdagangan internasional dan dominasi mereka dalam mendikte NSB sebagai prasyarat pinjaman luar negeri. Kondisi inilah yang pada akhirnya melahirkan sikap ketergantungan oleh NSB terhadap negara-negara maju, dan menimbulkan vulnerabilitas (sifat mudah terpengaruh) dari NSB kepada negara maju.

Faktor Penghambat di Negara Sedang Berkembang
1.      Perkembangan penduduk dan tingkat pendidikan yang rendah,
Perkembangan penduduk dapat menjadi pendorong maupun penghambat pembangunan. Perkembangan penduduk yang cepat tidak selalu menjadi penghambat dalam pembangunan ekonomi jika penduduk tersebut mempunyai kapasitas untuk menyerap dan menghasilkan produksi yang dihasilkan. Tetapi bagaimana dengan perkembangan penduduk yang begitu cepat dinegara-negara sedang berkembang? Nampaknya hal ini belum menjadi modal dasar yang positif, bahkan jumlah penduduk yang banyak sering kali menjadi penghambat.
2.      Perekonomian yang bersifat dualistik,
Perekonomian yang bersifat dualistik merupakan hambatan karena menyebabkan produktivitas berbagai kegiatan produktif sangat rendah dan usaha-usaha untuk mengadakan perubahan sangat terbatas sekali. Yang paling rawan adalah hambatan berupa dualisme sosial dan teknologi yang sangat berpengaruh terhadap mekanisme pasar sehingga sumber daya yang tersedia tidak digunakan secara efektif dan efisien.
3.      Tingkat pembentukan modal yang rendah,
Tingkat pembentukan modal yang rendah merupakan hambatan utama bagi pembangunan ekonomi. Pembentukan modal dinegara-negara yang sedang berkembang merupakan “ Vicious Cycle “ ( lingkaran tak berujung pangkal ). Produktivitas yang sngat rendah mengakibatkan rendahnya pendapatan riil. Pendapatan yang rendah mengakibatkan low saving dan low invesment, dan rendahnya pembentukan modal.
Pendapatan yang rendah mengakibatkan tabungan rendah pula. Tabungan yang rendah akan melemahkan pembentukan modal yang pada akhirnya kekurangan modal, masyarakat terbelakang, kekayaan alam belum dapat dioalah, dan seterusnya sehingga merupakan lingkaran yang tidak berujung pangkal.
4.      Struktur ekspor berupa bahan mentah
Sektor ekspor negara sedang berkembang belum merupakan “engine of growth” karena bersifat industri yang mendorong ekonomi dualisme yang kurang mendorong perkembangan ekonomi lebih lanjut. Publis and Singer berpendapat bahwa dalam jangka panjang daya tukar barang-barang yang diperdagangkan oleh negara sedang berkembang dengan negara maju akan menjadi bertambah buruk, dan merugikan negara sedang berkembang.
5.      Proses sebab akibat komulatif
Sebab akibat komulatif sirkuler adalah hambatan pembangunan di daerah miskin sebagai akibat pembangunan di daerah maju sehingga timbul gap antara daerah maju dengan daerah miskin.Keadaan-keadaan yang menghambat pembangunan di sebut back  wash effect.
Faktor yang menimbulkan back wash effect :
a.       Perpindahan penduduk dari daerah miskin ke daerah yang lebih maju,
b.      Corak pengaliran modal yang beraksi,
c.       Pola perdagangan dan kegiatan perdagangan terutama didominasi oleh industri-industri di daerah yang lebih maju ini menyebabkan daerah miskin mengalami kesukaran untuk mengembangkan pasar hasil industrinya dan memperlambat perkembangan di daerah miskin.




BAGIAN 2

2.1.      Masalah-masalah di Negara Berkembang
Masalah-masalah yang dihadapi negara yang sedang berkembang di antaranya:
1.      Standar hidup yang rendah, yaitu pendapatan nasional perkapita, tingkat pertumbuhan relative pendapatan nasional dan pendapatan perkapita, distribusi pendapatan nasioanal, tingkat kemiskinan, kesehatan dan pendidikan.
2.      Produksi yang rendah, yaitu sumber daya manusia yang tidak memadai dan kesehatan fisik yang rendah.
3.      Tingkat pertumbuhan penduduk dan ketergantungan yang terlalu tinggi.
4.      Tingkat pengangguran terbuka dan terselubung yang terlalu tinggi dan terus melonjak.
5.      Ketergantungan terhadap produksi pertanian dan ekspor barang-barang primer. Hal ini dikarenakan:
a.       tingkat produksivitas pertanian yang rendah
b.      ketergantungan pada ekspor primer
6.      Sistem hukum dan infrastruktur yang mapan.
7.      Ketergantungan yang dominan pada dunia internasional.

2.2.      Sifat / Karakteristik / Ciri-Ciri Negara Berkembang di Dunia
Negara yang sedang berkembang seperti Indonesia memiliki karakter atau ciri sebagai berikut:
1.      Tingkat Pertumbuhan Penduduk Tinggi
Tingkat pertambahan penduduk di negara berkembang umumnya lebih tinggi dua hingga empat kali lipat dari negara maju. Hal ini disebabkan oleh tingkat pendidikan dan budaya di negara berkembang yang berbeda dengan di negara maju. Hal tersebut dapat mengakibatkan banyak masalah di masa depan yang berkaitan dengan makanan, rumah, pekerjaan, Pendidikan dan lain sebagainya.
2.      Tingkat Pengangguran Tinggi
Akibat dari tingginya pertumbuhan penduduk mengakibatkan persaingan untuk mendapatkan pekerjaan menjadi tinggi. Jumlah tenaga kerja lebih banyak daripada kesempatan lapangan kerja yang tersedia dan tingkat pertumbuhan keduanya yang tidak seimbang dari waktu ke waktu.

3.      Tingkat Produktivitas Rendah
Jumlah faktor produksi yang terbatas yang tidak diimbangi dengan jumlah angkatan kerja mengakibatkan lemahnya daya beli sehingga sektor usaha mengalami kesulitan untuk meningkatkan produksinya.
4.      Kualitas Hidup Rendah
Akibat rendahnya tingkat penghasilan, masyarakat mengalami kesulitan untuk memenuhi kebutuhan pokok, pendidikan, kesehatan, dll. Banyak yang kekurangan gizi, tidak bisa baca tulis, rentan terkena penyakit, dan lain sebagainya.
5.      Ketergantungan Pada Sektor Pertanian /Primer
Umumnya masyakat adalah bermata pencaharian petani dengan ketergantungan yang tinggi akan hasil sektor pertanian.
6.      Pasar & Informasi Tidak Sempurna
Kondisi perekonomian negara berkembang kurang berkompetisi sehingga masih dikuasai oleh usaha monopoli, oligopoli, monopsoni dan oligopsoni. Informasi di pasar hanya dikuasai oleh sekelompok orang saja.
7.      Tingkat Ketergantungan Pada Angkatan Kerja Tinggi
Perbandingan jumlah penduduk yang masuk dalam kategori angkatan kerja dengan penduduk non angkatan kerja di negara sedang berkembang nilainya berbeda dengan dengan di negara maju. Dengan demikian di negara maju penduduk yang berada dalam usia nonproduktif lebih banyak bergantung pada yang masuk angkatan kerja.
8.      Ketergantungan Tinggi Pada Perekonomian Eksternal Yang Rentan
Negara berkembang umumnya memiliki ketergantungan tinggi pada perekonomian luar negeri yang bersifat rentan akibat hanya mengandalkan ekspor komoditas primer yang tidak menentu.

Ciri-ciri lainnya dari negara yang sedang berkembang:
1.      Tidak cukup makan.
2.      Struktur agraria lemah, karena pemilikan tanah yang kecil.
3.      Industri kurang berkembang di sebagian daerah.
4.      Tidak banyak menggunakan yang dibangkitkan dengan mesin.
5.      Ketergantungan ekonomi, karena perusahaan-perusahaan besar ada di tangan orang asing, atau negara tersebut masih tergantung pada luar negeri.
6.      Struktur sosial yang masih feodal (menggunakan paham lama).
7.      Tingkat pengangguran yang sangat besar jumlahnya dan tersebar di beberapa wilayah.
8.      Tingkat pengajaran rendah atau mutu pendidikan yang kurang baik.
9.      Angka kelahiran tinggi.
10.  Kesehatan yang kurang memadai.
11.  Orientasi kepada tradisi dan kepada kelompok.
12.  Kekayaan alam belum diolah semaksimal mungkin.
13.  Kemiskinan, dan hal ini memang sangat mengkhwatirkan.
14.  Kebodohan dan keterbelakangan.
15.  Kurangnya tenaga ahli di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi.
16.  Kesehatan kurang.
17.  Pendidikan tidak memadai.
18.  Ketahanan nasional lemah.




B.            Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Pembangunan Ekonomi
Proses pertumbuhan ekonomi dipengaruhi oleh dua macam faktor:
1.             Faktor Ekonomi
a.    Sumber alam atau tanah. Yang mencakup: kesuburan tanah, letak dan susunannya, kekayaan hutan, mineral, iklim, sumber air, sumber lautan, dsb. Lewis: "Dengan hal-hal yang sama, orang dapat mempergunakan dengan lebih baik kekayaan alamnya dibandingkan apabila mereka tidak memilikinya."
b.    Akumulasi Modal. Modal berarti persediaan faktor produksi yang secara fisik dapat direproduksi. Apabila stok modal naik dalam batas waktu tertentu maka disebut akumulasi modal atau pembentukan modal.
Nurskse: "Makna pembentukan modal adalah masyarakat tidak melakukan keseluruhan kegiatannya saat ini sekedar untuk memenuhi kebutuhan dan keinginan konsumsi yang mendesak, tetapi mengarahkan sebagian daripadanya untuk pembuatan barang modal, alat-alat dan perlengkapan, mesin dan fasilitas pengangkutan, pabrik dan peralatannya."
Kuznets: "rasio modal output marginal atau ICOR (incremental capital-output ratio; incremental = marginal) memainkan peranan penting dalam pertumbuhan ekonomi modern".
c.    Organisasi. Organisasi berkaitan dengan penggunaan faktor produksi di dalam kegiatan ekonomi. Organisasi bersifat melengkapi (komplemen) modal, buruh, dan membantu meningkatkan produktivitasnya.
d.   Kemajuan teknologi. Perubahan teknologi dianggap sebagai faktor paling penting di dalam proses pertumbuhan ekonomi. Perubahan tersebut berkaitan dengan perubahan di dalam metode produksi sebagai hasil pembaruan atau teknik penelitian baru. Perubahan ini menaikkan produktivitas buruh, modal, dan faktor produksi lain.
Kuznets: lima pola penting pertumbuhan teknologi dalam pertumbuhan ekonomi modern, yaitu:
1)   Penemuan ilmiah
2)   Invensi
3)   Inovasi atau pembaharuan
4)   Penyempurnaan
5)   Penyebarluasan penemuan
e.    Pembagian kerja dan skala produksi. Spesialisasi dan pembagian kerja menimbulkan peningkatan produktivitas. Adam Smith menekankan arti penting pembagian kerja bagi perkembangan ekonomi. Pembagian kerja perbaikan kemampuan produksi buruh buruh lebih efisien menghemat waktu mampu menemukan mesin baru produksi meningkat.
2.             Faktor non-ekonomi
a.    Lembaga atau faktor sosial dan budaya. Pendidikan dan kebudayaan di Barat membawa ke arah penalaran (reasoning) dan skeptisisme menanamkan semangat baru dan memunculkan kelas pedagang baru menghasilkan perubahan pandangan, harapan, struktur dan nilai-nilai sosial orang dibiasakan menabung dan berinvestasi dan menikmati resiko untuk memperoleh laba. Lewis: "hasrat untuk berhemat", memaksimumkan output untuk input tertentu.
b.    Sumberdaya manusia. Pengembangan faktor manusia berkaitan dengan efisiensi dan produktivitas, yang oleh ahli ekonomi disebut pembentukan modal insani, yaitu proses peningkatan ilmu pengetahuan, keterampilan dan kemampuan seluruh penduduk negara yang bersangkutan.
 Jumlah penduduk yyang melonjak cepat merupakan penghambat bagi pembangunan di negara berkembang.
c.    Faktor politik dan administratif. Stabilitas politik dan administrasi yang kokoh membantu pertumbuhan ekonomi modern. Administrasi yang kuat, efisien, dan tidak korup sangat penting bagi pembangunan ekonomi. Demikian juga dengan ketertiban, stabilitas dan perlindungan hukum mendorong kewiraswastaan.
Struktur politik dan administrasi yang lemah merupakan penghambat besar bagi pembangunan ekonomi negara terbelakang[1][3].






















BAGIAN 3
Fenomena keterbelakangan (underdevelopment) harus ditelaah dalam konteks nasional maupun internasional. Masalah-masalah kemiskinan, produktivitas yang rendah, pertumbuhan penduduk yang berlebihan,pengangguran, ketergantungan pada ekspor komoditi primer, serta rapuhnya negara-negara berkembang di pentas internasional memiliki aspek-aspek domestic sekaligus global, baik ketika kita berbicara tentang asal mula semua masalah tersebut maupun ketika kita membahas potensi-potensi pemecahannya. Olehkarena itu, usaha-usaha penyelkesaian atas masalah keterbelakangan harus melibatkan langkah-langkah domestik sekaligus global. Segenap kekuatan ekonomi dan sosial yang melingkupi negara-negara berkembang, baik yanginternal, harus sama-sama memikul tanggung jawab untuk megatasi kemiskinan,ketimpangan ekonomi dan sosial tidak hanya mensyaratkan formulasi strategi yang memadai di pihak negara-negara Dunia Ketiga, tetapi juga memerlukan modifikasi sistem ekonomi internasional secara keseluruhan agar sistem tersebutlebih peka terhadap berbagai kebutuhan pembangunan negara miskin. Meskipun gambaran kehidupan di banyak negara berkembang dalampembahasan kita ini nampaknya begitu suran, perlu diingat bahwa banyak pulanegara-negara berkembang yang telah berhasil dalam upayanya meningkatkanpendapatan nasional. Menurunkan tingkat kematian bayi, memperbaiki aksespendidikan, serta memperbesar usia harapan hidup. Sebenarnya, melaluipenerapan serangkaian kebijakan ekonomi dan politik yang tepat, baik kebijakandalam negari maupun kebijakan luar negeri, serta dengan suatu dukungan yangbenar-benar positif dan efektif dari negara maju, maka negara-negara miskintersebut akan memiliki sarana dan dukungan yang lebih memadai gunamewujudkan aspirasi-aspirasi pembangunannya

. Standar Hidup yang Rendah
Pada hampir semua negara berkembang, standar hidup (levels of living) dari sebagian penduduknya sangat rendah. Sebutan rendah itu bukan hanya dalam pengertian global, yakni bila dibandingkan dengan standar hidup orang-orang di negara kaya, namun juga di dalam domesti, yakni bila dibandingkan dengan hidup gaya hidup golongan elit di negara mereka sendiri. Standar hidup yang rendah tersebut diwujudkan dalam bentuk jumlah pendapatan yang sedikit, perumahan yang kurang layak, bekal pendidikan yang minim, atau bahkan tidak ada dan peluang mendapatkan pekerjaan yang sangat rendah.
2. Pendapatan Nasional per Kapita
Angka total pendapatan atau produk nasional bruto (GNP-Gross National Products) per kapita merupakan konsep yang paling sering dipakai untuk ukuran tingkat kesejahteraan ekonomi penduduk di suatu negara. Konsep GNP itu sendiri merupakan indikator atas besar-kecilnya aktivitas perekonomian secara keseluruhan. GNP adalah nilai moneter (dalam satuan uang) atas segenap kegiatan ekonomi yang dimiliki oleh penduduk suatu negara. Seperti yang dapat kalian lihat dalam grafik berikut ini, Indonesia menempati posisi terendah.
3. Tingkat Pertumbuhan Relatif Pendapatan Nasional dan Pendapatan per Kapita
Di samping tingkat pertumbuhan pendapatan per kapitanya yang begitu rendah, pertumbuhan pendapatan nasional (GNP) di banyak negara-negara berkembang (atau yang lebih dikenal dengan istilah Negara-negara Dunia Ketiga) lebih rendah daripada yang dicapai oleh negara-negara maju. Negara-negara Dunia ketiga ini pada umumnya mengalami kemerosotan pertumbuhan ekonomi yang cukup tajam selama periode 1980-an. Selama dekade 1980-an dan awal dekade 1990-an, kesenjangan pendapatan (income gap) antara negara kaya dan negara miskin semakin dalam kecepatan yang sangat tinggi.
4. Distribusi Pendapatan Nasional
Terus melebarnya kesenjangan tingkat pendapatan per kapita antara negara-negara miskin bukanlah merupakan satu-satunya wujud melebarnya perbedaan waktu antara kelompok negara-negara kaya dan miskin. Hal penting yang harus diketahui adalah bahwa tingkat pendapatan dari semua negara memang tidak sama. Sampai batas tertentu, selalu terdapat kesenjagan pendapat (income inequality). Antara orang kaya dan miskin di semua negara baik negara-negara maju maupun negara berkembang pasti terdapat perbedaan atau kesenjangan pendapatan. Hanya saja, ketimbang dinegara-negara berkembang ternyata jauh lebih parah atau lebih besar daripada yang ada di negara-negara maju.
5. Tingkat Kemiskinan
Tinggi rendahnya tingkat kemiskinan di suatu negara tergantung pada faktor utama, yakni tingkat (1) pendapatan nasional rata-rata, dan (2) lebar sempitnya kesenjangan dalam pembagian pendapatan. Jelas, bahwa setinggi apa pun tingkat pendapatan nasional per kapita yang dicapai oleh suatu negara, selama pembagian pendapatan nasional per kapita yang dicapai oleh suatu negara, selama pembagiannya pendapatan merata, maka tingkat kemiskinan di negara tersebut pasti akan tetap parah. Demikian pula sebaliknya, semerata apa pun distribusi pendapatan di suatu negara, jika pendapatan nasional rata-ratanya tidak mengalami perbaikan, maka kemelaratan akan semakin luas.
6. Kesehatan
Selain harus membanting tulang untuk mendapatkan penghasilan yang tidak seberapa, banyak penduduk di negara Dunia ke tiga yang masih harus bejuang melawan kekurangan gizi dan hama penyakit. Tidak sedikit yang kemudian terpaksa menyerah, mati karena penyakit atau malnutrisi (kekurangan gizi). Meskipun kondisi kesehatan di banyak negara berkembang sudah mengalami perbaikan berarti sejak tahun 1960, namun pada kenyataannya, pada tahun 1998 rata-rata usia harapan hidup di negara-negara yang paling terbelakang di dunia hanya mencapai 48 tahun; bandingkan dengan usia 63 tahun di negara-negara Dunia Ketiga lainnya, dan usia 75 tahun di negara-negara maju. Tingkat kematian bayi (infant mortality rates), yakni jumlah anak usia yang mati sebelum berusia 1 tahun untuk setiap 1000 kelahiran, di negara-negara yang paling terbelakang rata-rata mencapai 96; sedangkan di negara berkembang lainnya mencapai 64, dan 8 di negara-negara maju.
Pada pertengahan tahun 1970-an, lebih dari satu miliyar penduduk atau hampir 50 persen penduduk negara-negara Dunia Ketiga (tidak termasuk Cina) menderita kekurang gizi. Sepertiga dari jumlah tersebut terdiri dari anak-anak berusia di bawah dua tahun. Mereka adalah penduduk dari negara-negara termiskin dengan tingkat pendapatan yang paling rendah. Pada masa 1990-an keadaan ini bahkan terus memburuk. Terutama di kawasan Afrika sub Sahara. Pada penduduk kawasan ini bahkan sering tidak memiliki sesuatu sekedar untuk mengganjal perut . wabah kelaparan telah melanda Afrika hingga berlarut-larut. Di Asia dan Afrika, lebih dari 60 persen penduduknya tidak mampu memenuhi kebutuhan kalori minimum yang diperlukan untuk hidup sehat. Diperkirakan bahwa kekurangan kalori tersebut sebenarnya bisa ditutup dengan 2 persen total padi-padian dunia. Hal ini bertentangan dengan pendapat umum yang menyatakan bahwa kekurangan gizi diakibatkan oleh terbatasnya produk bahan pangan dunia. Jadi sebenarnya yang menjadi penyebab timbulnya kelaparan dan kekurangan gizi bukanlah keterbatasan produksi bahan pangan, melainkan ketimpangan penyaluran bahan pangan sedunia. Secara umum dapat dikatakan bahwa kekurangan gizi dan buruknya kondisi di negara berkembang lebih disebabkan oleh kemiskinan, dan bukannya oleh kelangkaan produksi makanan, walaupun kedua faktor tersebut secara tidak langsung berkaitan .
7. Pendidikan
Di sebagian besar negara-negara Dunia ketiga, penyediaan fasilitas pendidikan dasar menjadi prioritas utama. Namun demikian, anggaran pengeluaran negara masih belum sepenuhnya diprioritaskan pada sektor ini. Walaupun jumlah penduduk usia sekolah yang telah menikmati pendidikan sudah banyak meningkat, namun tingkat buta huruf masih sangat tinggi apalagi jika bandingkan dengan yang ada di negara-negara maju. Sebagai contoh, di antara negara-negara yang paling terbelakang, tingkat melek huruf (kebalikan dari buta huruf) rata-rata hanya mencapai 45 persen dari jumlah penduduk (itu artinya tingkat buta hurufnya masih berkisar 55 persen). Untuk negara-negara Dunia Ketiga lainnya relatif sudah berkembang, tingkat melek hurufnya 64 persen. Sedangkan angka untuk negara-negara maju mencapai 99 persen.
ekonomi negara berkembang
Dewasa ini, di berbagai penjuru negara-negara Dunia ketiga, diperkirakan lebih dari 300 juta anak-anak terpaksa keluar (dropped out) dari bangku sekolah dasar dan menengah, karena berbagai alasan. Selain itu, sekitar 842 juta penduduk negara-negara Dunia Ketiga masih huruf, dan 60 persen diantaranya adalah wanita. Hal lain yang patut dicatat adalah materi-materi pendidikan yang diberikan kepada anak-anak itu pun acapkali kurang berhubungan dengan kebutuhan pembangunan nasional.
8. Produktivitas yang Rendah
Disamping standar hidup yang rendah, negara-negara juga menghadapi masalah rendahnya tingkat produktivitas tenaga kerja (Labor productivity). Rendahnya tingkat produktivitas ini disebabkan oleh beberapa hal seperti:
Sumber Daya Manusia yang Tidak Memadai
Sebelum membahas masalah ini, perlu dijelaskan di sini sebuah prinsip dalam ilmu ekonomi yang disebut dengan produktivitas marjinal yang semakin menurun (diminishing marginal productivity). Menurut prinsip ini, jika beberapa faktor produksi variabel (faktor produksi yang berubah-ubah seperti faktor produksi lainnya tetap (seperti daktor modal, tanah dan bahan baku), maka seperti melewati suatu titik tertentu, setiap tambahan suatu produk (marginal product uotput) yang bersumber dari penambahan faktor variabel tersebut akan menurun. Atas dasar prinsip ini, kita dapat menebak bahwa rendahnya produktivitas tenaga kerja di nuegara-negara Dunia Ketiga disebabkan kurangnya oleh faktor-faktor atau “pelengkap” seperti modal dan/ kecakapan SDM yang penuh pengalaman. Hal ini tentu saja membuat faktor-faktor produksi lainnya seperti modal, tanah, dan tenaga kerja tidak berkembang.
















BAGIAN 4
Manado – Gubernur Sulut Dr Sinyo Harry Sarundajang mengemukakan beberapa pokok pikiran tentang permasalahan dibidang transmigrasi yang dihadapi. menurutnya transmigrasi jika tidak dikelolah dengan baik dapat melahirkan permasalahan baru yang dapat berakibat pada kesenjangan sosial.
“Transmigrasi bukan hanya persoalan bagaimana memindahkan penduduk dari daerah yang padat ke daerah yang jarang penduduknya, namun lebih dari itu adalah bagaimana keberlanjutan dari komunitas yang nantinya terbentuk dari hasil transmigrasi tersebut,” ujar mantan penjabat Gubernur Maluku dan Maluku Utara ini di Hotel Aryaduta Manado.
Ketua Umum Asosiasi Ilmu Politik Indonesia (AIPI) juga mengungkapkan bahwa permasalahan yang harus dipikirkan terkait transmigrasi adalah menyangkut infrastruktur yang memiliki pengaruh besar dalam menggerakkan perekonomian para transmigran.
Dia juga menyentil tentang eratnya hubungan antara transmigrasi dengan sektor pertanian dimana nantinya program transmigrasi diharapkan membantu pemerintah dalam mewujudkan swasembada pangan demi menjaga stabilitas ketahanan pangan di daerah, untuk itu Sarundajang meminta peran serta aktif dari para kepala daerah di Kabupaten lokasi transmigrasi agar mendukung program tersebut.
Dalam pertemuan itu, sebanyak 98 peserta dari 5 provinsi yaitu Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah, Sulawesi Tenggara, Gorontalo dan Maluku Utara sejak tanggal 19 Agustus 2013 berkumpul di hotel tersebut guna membicarakan isu-isu strategis menyangkut pertanahan transmigrasi.
Sebagaimana dilaporkan Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Provinsi Sulut Christian Talumepa, SH, MSi peserta terdiri dari para unsur Dinas Nakertrans dan Badan Pertanahan Nasional (BPN) masing-masing wilayah dalam rangka membahas dan mengidentifikasi permasalahan-permasalahan bidang transmigrasi khususnya peruntukan lahan di daerah serta mancarikan solusinya. (rizath polii)






Faktor pendorong transmigrasi
  1. Berkurangnya SDA
  2. Menyempitnya lapangan pekerjaan
  3. Adanya bencana alam
Faktor penarik transmigrasi
  1. Kesempatan mendapatkan pendapatan yang lebih baik
  2. Kesempatan memperoleh pendidikan yang lebih tinggi
  3. Ajakab dari orang yang dijadikan tempat berlindung 
4.     faktor penyebab penduduk melakukan transmigrasi
5.      https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEip53bqkwD748Kuwc1X78EOtkMlXRfc1KeZsC0X3iJkABIRmBlzbr5oArexvsu-JeTaAPXjabFKa4wcVINeEb7gESfo9FCndNa3IWjbD3eZQZSdsgpNFcMN54BY6zPDIbTneM3LxTy1mHQ3/s1600/berangkat+transmigrasi.png1. Persebaran penduduk tidak merata
6.      Pulau Jawa merupakan pulau yang paling padat di dunia. Saat ini penduduk di pulau Jawa kurang lebih 160 juta jiwa. Transmigrasi dibutuhkan agar kepadatan penduduk di pulau Jawa bisa dikurangi dengan memindah sebagian penduduk ke Pulau Kalimantan, Sumatera, Sulawesi dan Papua. Diharapkan dipulau tujuan bisa ikut membangun daerha tersebut.
7.       
8.      2. Alasan ekonomi
9.      Sebagian besar transmigran mengikuti program ini karena ingin mendapatkan kehidupan yang lebih layak daripada sebelumnya. Dengan transmigrasi mereka mendapatkan tanah sebanyak 2 hektar dan tunjangan. Modal dari pemerintah tersebut bisa dijadikan lahan pertanian yang nantinya bisa meningkatkan pendapatan transmigran. Transmigrasi dengan alasan ini biasanya ditempatkan di pulau-pulau yang ada perkebunannya atau mempunyai potensi pertanian tertentu. Misalnya : pulau Kalimantan dan Pulau Sumatera karena di sana banyak di jumpai perkebunan kelapa sawit dan karet.
10.   
11.  3. Bencana alam
12.  Jika suatu daerah dekat dengan gunung berapi yang sangat aktif maka transmigrasi diperlukan untuk memberikan tempat baru yang lebih aman dari tempat sebelumnya. Usaha ini juga untuk mengurangi jumlah korban jiwa jika terjadi bencana alam. Pulau Kalimantan merupakan tujuan yang tepat untuk transmigrasi karena di sana tidak ada gunung berapi dan relatif aman dari gempa bumi karena tidak dilewati lempeng bumi.
13.   
14.  4. Adanya proyek pembangunan
15.  Dulu ada desa yang bertransmigrasi karena ada proyek pembangunan bendungan. Seluruh warga desa pindah tan terkecuali. Nama program ini adalah transmigrasi bedol desa. Karena satu desa yang pindah maka tempat tujuannya juga buat lahan yang luas dijadikan satu desa di pulau yang lain. Pulau yang bisa dijadikan sebagai tujuan transmigasri jenis ini adalah Pulau Kalimantan, Sumatera, Sulawesi dan Papua.





BAGIAN 5
cara mengatasi masalah kemiskinan dan pemerataan juga pengangguran
Etiologi

Kemiskinan adalah suatu kondisi yang timbul ketika masyarakat mulai mengorganisasi dirinya ke dalam suatu hierarki atau membentuk stratifikasi tertentu sehingga memungkinkan adanya suatu lapisan masyarakat yang posisinya lebih tinggi dari yang lain (secara politik, sosial dan ekonomi).

Solusi Jangka Pendek


Solusi jangka pendek merupakan keharusan untuk menangani kedaruratan dari gejala-gejala kemiskinan yang parah berupa merebaknya kelaparan dan wabah penyakit, peningkatan kasus kurang gizi pada anak-anak, peningkatan jumlah anak putus sekolah dan mungkin peningkatan kasus bunuh diri akibat depresi yang dipicu oleh kesulitan ekonomi yang parah.

Pada prinsipnya solusi jangka pendek harus diberikan sesegera mungkin berupa bantuan tunai langsung, bantuan pangan, tenaga medis dan obat-obatan, tetapi juga penyalurannya harus cukup selektif untuk tidak mendorong timbulnya sikap apatis

kondisi Kemiskinan di Indonesia


Secara harafiah, kemiskinan berasal lebih luas, kemiskinan dapat dikonotasikan sebagai suatu kondisi ketidakmampuan baik secara individu, keluarga, maupun kelompok sehingga kondisi ini rentan terhadap timbulnya permasalahan sosial. Kemiskinan telah menjadi masalah yang kronis karena berkaitan dengan kesenjangan dan pengangguran. Jadi pemecahannya pun harus terkait dan juga komprehensif dengan faktor-faktor yang mempengaruhinya. Lebih jauh kemiskinan menjadi bukan sekadar masalah ekonomi tetapi masalah kemanusiaan. Hampir semua negara menghadapi masalah ini. Bahkan Amerika Serikat yang merupakan negara kaya namun masih menghadapi masalah kemiskinan. Disisi lain bagi negara-negara berkembang seperti Indonesia, kemiskinan merupakan masalah terberat yang harus dihadapi. Kemiskinan seakan sudah menjadi bagian dari takdir manusia. Namun menurut Muhammad Yunus (Penerima hadiah nobel perdamaian tahun 2006) yang ditulis dalam bukunya yang berjudul creating a world without poverty menjelaskan bahwa dunia bebas dari kemiskinan itu tidaklah mustahil. Kemiskinan bukan diciptakan oleh masyarakat miskin tapi diciptakan oleh sistem yang ada di masyarakat. Namun apabila kita semua tidak peduli terhadap kemiskinan berarti kita juga menjadi bagian dari sistem yang menciptakan kemiskinan itu sendiri.

Di Indonesia sendiri banyak program-program yang telah berhasil mengurangi angka kemiskinan. Jika kita melihat data jumlah penduduk miskin dari tahun 1976 yang mencapai 54,2 juta (40.1%) menjadi 22,5 juta (11.3%) pada tahun 1996. Kemudian karena adanya krisis yang mendera bangsa ini efeknya mengakibatkan bertambahnya jumlah penduduk miskin sebesar 47,9% (23.4%) pada tahun 1999. Era reformasi jumlah penduduk miskin perlahan-lahan menurun menjadi 36.1 juta (16.7%) ditahun 2004.

Kebijaksanaan Dasar Pengentasan Kemiskinan
Kebijaksaaan penanggulangan kemiskianan dapat di kategorikan menjadi dua yaitu kebijaksanaan:

1. Kebijaksanaan tidak lansung
Kebijaksanaan tidak lansung diarahkan pada penciptaan kondisi yang menjamin kelangsungan setiap upaya penanggulangan kemiskinan. Kondisi yang dimaksudkan anatara lain adalah suasana social politik yang tentera,ekonomi yang stabil dan budaya yang berkembang. Upaya penggolongan ekonomi makro yang yang berhati-hati melalui kebijaksanaan keuangan dan perpajakan merupakan bagian dari upaya menaggulangi kemiskinan. Pengendalain tingkat inflasi diarahkan pada penciptaan situsasi yang kondusif bagi upaya penyediaan kebutuhan daasar seperti sandang,pangan,papan,pendidikan,dan kesehatan dengan harga yang terjangkau oleh penduduk miskin.
2. Kebijaksanaan langsung
Kebijaksaan langsung diarahkan kepada peningkatan peran serta dan peroduktifitas sumber daya manusi,khususnya golongan masyarakat berpendapatan rendah,melalui penyediaan kebutuhan dasar seperti sandang pangan papan kesehatan dan pendidikan,serta pengembangan kegiatan-kegiatan social ekonomi yang bekelanjutan untuk mendorong kemandirian golangan masyarakat yang berpendapatan rendah. Pemenuhan kebutuhan dasar akan memberiakn peluang bagi penduduk miskin untuk melakukan kegiatan social – ekonomi yang dapat memberikan pendapatan yang memadai. Dalam hubungan ini,, pengembangan kegiatan social ekonomi rkyat diprioritaskan pada pengembangan kegiatan social ekonomi penduduk miskin di desa-desa miskin berupa peningkatan kualitas sumber daya manusia dan peningkatan permodalan yang didukung sepenuhnya dengan kegiatan pelatih yang terintegrasi sejak kegiatan penghimpunan modal,penguasaan teknik produksi,pemasaran hasil dan pengelolaan surplus usaha.

solusi pengangguran


1. Mendorong majunya pendidikan

Biar bagaimanapun, pendidikan merupakan faktor utama seseorang dalam memilih dan mendapatkan pekerjaan. Walaupun masih banyak para sarjana yang menjadi pengangguran, namun biasanya apabila seseorang mau bekerja dalam suatu prusahaan, pendidikan adalah salah satu hal yang dipersyaratkan.

2. Program pelatihan kerja


Pengangguran kebanyakan disebabkan oleh masalah tenaga kerja yang tidak terampil dan ahli. Selain berpendidikan, perusahaan lebih menyukai calon pegawai yang sudah memiliki keterampilan atau keahlian tertentu. Masalah tersebut amat relevan di Negara kita, mengingat sejumlah besar penganggur adalah orang yang belum memiliki keterampilan atau keahlian tertentu. Program ini dapat berjalan dengan baik apabila ada saling kerja sama antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan masyarakat.

3. Meningkatkan dan mendorong kewiraswastaan

Masalah pengangguran menjadi sedikit terpecahkan apabila muncul keinginan untuk menciptakan lapangan usaha sendiri atau berwiraswasta yang berhasil. Cara ini sebenarnya berpeluang besar dalam mengurangi pengangguran dalam masyarakat, karena dalam berwiraswasta tidak menuntut pendidikan yang tinggi. Namun biasanya yang dibutuhkan hanya sedikit modal dan keuletan dalam menjalankan usahanya.

4. Meningkatkan program transmigasi

Tingkat pengangguran yang dialami masyarakat terutama yang berada di Pulau Jawa dapat sedikit teratasi apabila masyarakat bersedia untuk ikut program transmigrasi. Apalagi kalau kita melihat masyarakat yang tinggal di daerah kumuh di kota-kota besar. Kenapa mereka tidak diikutkan program transmigrasi saja.?

Padahal kalau saya rasakan sendiri, daerah di luar Pulau Jawa lebih banyak menyediakan lapangan pekerjaan. Baik peluang berwiraswasta maupun pekerjaan di perusahaan lebih terbuka lebar. Apalagi bagi Anda yang mempunyai pendidikan tinggi, tidaklah terlalu sulit untuk mencari pekerjaan dengan gaji yang besar.

5. Mengintensifkan program keluarga berencana


Seperti yang telah kita ketahui, Indonesia merupakan salah satu negara dengan populasi penduduk terbanyak di dunia. Jadi apabila masalah keluarga berencana ini tidak dijalankan secara efektif, dapat dipastikan pengangguran di Indonesia akan semakin bertambah.




BAGIAN 6
UNSUR-UNSUR PERKEMBANGAN EKONOMI

  1. Penduduk dan Tenaga kerja
  2. Kapital Sosial
  3. Sumber daya alam
  4. Teknologi dan fungsi wiraswasta


  1. Penduduk dan tenaga kerja
Sebagian besar penduduk di Negara-negara berkembang berada dalam keadaan yang ditandai dengan “kemiskinan massal” pertumbuhan penduduk yang dialami oleh Negara-negara berkembang sangat cepat laju pertumbuhannya. Sehingga hal tersebut merupakan factor dinamika yang paling penting dalam perkembangan ekonomi, sebab factor penduduk mempengaruhi serta menentukan arah perkembangan suatu Negara dimasa yang akan dating, banyaknya penduduk dinegara-negara berkembang yang bekerja disektor pertanian serta memproduksi output primer (bahan-bahan mentah) dikarenakan tingkat pendapatan yang rendah sehingga prioritas pertama bagi penduduk tersebut adalah pangan,pakaian dan papan.











http://www.pustaka.ut.ac.id/website/index.php.20:25/ 2011/04/18-PKOP4207ekonomi pembangunan

  1. Tahap-tahap perkembangan penduduk
·         Tahap pertama antara tahun 1900 sampai tahun 1920 dalam dimana tingkat perkembangan penduduk lambat. Dalam tahap ini penduduk tidak selalu berkembang. Adakalanya jumlah penduduk mengalami kemunduran yang timbul sebagai akibat bahaya kelaparan atau wabah penyakit. Ciri lain yang lebih penting dari tahap ini adalah terdapatnya tingkat kelahiran dan kematian yang tinggi kedua factor ini menyebabkan tingkat pertambahan penduduk rendah.
·         Tahap kedua, yaitu dari akhir tahap pertama hingga tahun 1950 merupakan periode yang ditandai dengan penurunan tingkat kematian, namun tingkat kelahiran tidak mengalami perubahan. Factor yang menyebabkan penurunan tingkat kematian tersebut adalah kemajuan dalam biddang kedokteran dan perluasan pelayanan kesehatan kepad masyarakat.
·          Pada tahap yang ketiga, yaitu sesudah perang dunia ke II, tingkat kematian mengalami penurunan lebih lanjut sedangkan tingkat kelahiran tetap tidak mengalami perubahan yang berarti. 
Didasarkan pada sifat ketiga tahap perkembangan penduduk tersebut dapat disimpulkan bahwa perkembangan penduduk yang sangat pesat dinegara berkembang disebabkan oleh proses penurunan tingkat kematian yang tidak diikuti oleh penurunan dalam tingkat kelahiran. Sebagai akibatnya perbedaan antara tingkat kelahiran dan kematian, yang trutama menentukan tingka pertambahan penduduk disuatu Negara,(factor lain adalah perpindahan penduduk dari Negara lain) menjadi semakin besar.





 
Sukirno,sadono,ekonomi pembangunan “proses masalah,dan dasar kebijakan”edisikedua,kencana prenada media group 2010


  1. Faktor yang mempercepat perkembangan penduduk
Perkembangan penduduk dunia yang besar jumlahnya tersebut disebabkan oleh 2 faktor. Yang pertama adalah jumlah penduduk yang sudah terlalu banyak. Semenjak permulaan abad lalu, yaitu dalam waktu satu abad, penduduk dunia telah berkembang dari 1,6 miliar menjadi lebih dari 6 miliar. Pertambahan penduduk yang demikian besar dalam waktu singkat tersebut belum pernah terjadi dalam sejarah. Pada pertengahan abad ke 17 (tahun 1650), penduduk dunia ditaksir berjumlah 545 juta jiwa, dan satu setengah abad kemudian yaitu pada tahun 1800 penduduk dunia baru berjumlah 906 juta. Berarti dalam waktu satu setengah abad penduduk hanya berkembang kurang dari dua kali lipat.
Factor yang kedua dan lebih penting,yang menyebabkan perkembangan penduduk yang sngat pesat adalah tingkat pertambahan penduduk yang relatif sangat cepat belakangan ini. 

  1. Peranan penduduk dan tenaga kerja dalam perkembangan ekonomi
Peranan tenaga kerja dalam pembangunan ekonomi ditentukan oleh jumlah dan mutu tenaga kerja yang tersedia sebagai pelaksanaan berbagai usaha dilapangan pekerjaan yang tersedia. Tenaga kerja dinegara-negara berkembang yang banyak bekerja disektor pertanian dapat disalurkan pada sector industri yang mampu menyerap relative lebih banyak tenaga kerja, terutama yang bersifat padat karya. Jumlah penawaran tenaga kerja dinegara-negara berkembang yang tinggi disebabkan oleh pertumbuhan penduduk yang pesat dan dimanfaatkan dengan mengadakan pelatihan-pelathan oleh pemerintah. Yang bertujuan untuk memberdayakan tenaga kerja yang berlebih agar sumber-sumber alam yang melimpah dan belum diolah secara maksimal sesuatu yang dapat menaikkan angka pertumbhan ekonomi.








. B. Kapital Sosial
          Kapital social merupakan suatu konsep yang relative “baru” yang dalam teori pembangunan berupaya meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Capital social tersebut bersifat problematic terutama peletakkan kata social dalam menyifati capital. Capital dalam referensi ekonomi mempertimbangkan referensi yang bukan ekonomi seperti sosiologi sehingga terkadang sulit mencapai titik temu dalam keseragaman pengertian.(Robert M.Z. Lawang, 2004). Modal social merupakan konsep sosiologi mengacu pada koneksi dan jaringan social. Istilah modal mengacu pada kohesi social dan investasi pribadi dalam masyarakat.
Sebagaimana relasi social pada umumnya, selalu melibatkan modal social(social capital). Schiff (2000) menyebutkan bahwa di era modern ini, dimana terjadi perdagangan bebas(free trade) dan migrasi bebas(free migration), namun keduanya membutuhkan modal social. Selaras dengan itu Brata (2004) mengatakan bahwa modal social merupakan isu menarik yang banyak dibicarakan dan dikaji belakangan ini. Dalam laporan tahunannya yang berjudul Entering the 21st Century, misalnya, bank dunia mengungkapkan bahwa modal social memiliki dampak yang signifikan terhadap proses-proses pembangunan. Kegiatan pembangunan akan lebih mudah dicapai dan biayanya akan lebih kecil jika terapat modal social yang besar.
  Secara umum, menurut Tonkiss(2000) modal social baru bernilai ekonomis kalau dapat membantu individu atau kelompok misalnya untuk mengakses sumber-sumber keuangan, mendapatkan informasi, menemukan pekerjaan, merintis usaha dan meminimalkan biaya transaksi pada kenyataanya jaringan social tidaklah cukup karena belum mampu menciptakan modal fisik dan modal finansial yang belum pernah ada.  










  1. Batasan-dan variable-variabel dalam modal social
    Pada prinsipnya, konsep “Modal Sosial” lahir sebagai kritik pendekatan individual otonom yang merupakan karakter utama ilmu ekonomi. Semenjak dahulu telah berkembang berbagai pengertian tentang modal social, baik yang dikembangkan oleh kalangan ekonomi maupun social (ilmu non-ekonomi), sehingga kita dapat menemukan modal social dalam pengertian kalangan ekonomi dan juga non-ekonomi. Modal social dapat diterapkan untuk berbagai kebutuhan, namun yang paling banyak adalah untuk upaya pemberdayaan masyarakat. World Bank member perhatian yang tinggi dengan mengkaji peranan dan implementasi modal social khususnya pengentasan kemiskinan dinegara-negara berkembang. Paham yang dikembangkan olek World Bank dengan menggunakan modal social didasari oleh asumsi berikut yaitu (World Bank 1998) :
1.      Modal social berada dalam seluruh keterkaitan ekonomi, social dan politik; dan menyakini bahwa hubungan social mempengaruhi bagaimana pasar dan Negara bekerja. Sebaliknya, pasar dan Negara juga akan membentuk bagaimana modal social dimasyarakat bersangkutan.
2.      Hubungan yang stabil antar actor dapat mendorong keefektifan dan efisiensi baik pelaku kolektif maupun individual.
3.      Modal social dalam masyarakat dapat diperkuat, namun membutuhkan dukungan sumber daya tertentu untuk memperkuatnya.








 

4.      Agar tercipta hubungan-hubungan social dan kelembagaan yang baik, maka anggota masyarakat mesti mendukungnya.
Jadi modal social menjadi semacam perekat yang mengikat semua orang dalam masyarakat. Dalam modal social dibutuhkan adanya “nilai saling berbagi” serta pengorganisasian peran-peran yang diekspresikan dalam hubungan-hubungan personal, kepercayaan dan tentang tanggung jawab bersama sehingga masyarakat menjadi lebih dari sekedar kumpulan individu belaka    

Modal social sesungguhnya memiliki kontribusi penting dalam pembangunan, khususnya agar tercapainya pembangunan berkelanjutan. Istilah “capital” sesungguhnya sangat berbau ekonomi. Pengertian ini mempengaruhi bagaimana kalangan ekonomi memaknai modal social. Dalam pengertian yang mendasar menurut kalangan ekonomi, modal social berperan dalam mekanisme alokasi sumberdaya.
Ada 2 pendapat dimana posisi modal social.:
1.      Modal social melekat pada hubungan jaringan hubungan social. Hal ini terlihat dari kepemilikan informasi, rasa percaya, saling memahami, kesamaan nilai dan saling mendukung.
2.      Modal social juga dapat dilihat sebagai karakteristik yang melekat pada diri individu yang terlibat interaksi social. Jadi modal social tidak berada dalam jaringan, namun pada individu-individunya.
Modal social atau hubungan antar individual merupakan salah satu sumberdaya atau modal yang digunakan orang dalam strategi pemecahan persoalan kehidupan sehari-hari(Buses 2001).  










  1. Modal social menciptakan nilai ekonomi
       Kata “social” dalam frasa “modal sosial” bermakna sebuah relasi antar manusia, bukan dalam makna non ekonomi dan bantuan social. Dengan kata lain, modal social sesungguhnya adalah modal yang digunakan dalam aktifitas ekonomi, sebagaimana modal financial dan sumberdaya alam.



   C. Sumber daya alam
   1. Pengertian dan peranan sumber daya alam dalam pembangunan ekonomi
   Peranan ilmu ekonomi dalam kaitannya dengan sumber daya alam dan                         lingkungan yaitu mengenai pengambilan keputusan dalam penggunaan sumber daya alam yang langka. Penggunaan sumber daya alam untuk masa mendatang merupakan imbangan antar penduduk dan sumber daya alam. Sumber daya alam adalah segala sesuatu yang berada dibawah
maupun diatas bumi dan belum dilibatkan dalam proses produksi. Barang sumber daya alam adalah sumber daya alam yang sudah diambil dari bumi dan digunakan sebagai factor produksi. Pertumbuhan ekonomi yang cepat memerlukan barang sumber daya yang banyak namun dapat mengurangi sumber daya alam dibumi. Teori ekonomi yang digunakan dalam pertumbuhan ekonomi yang berkaitan dengan sumber daya alam adalah fungsi produksi. Yaitu: Persediaan untuk kebutuhan manusia, Lokasi persediaan, pergeseran ketersediaan sumber daya alam, kebijakan penggunaan, peranan sumber daya alam dan lingkungan, kualitas, keruskan lingkungan dan mekanisme pasar.









 
Http://www.shafwandi08. blogspot.com-09:00/2011/04/16-Ekonomi sumber daya alam dan lingkungan
  1. klasifikai sumber daya alam dan ukuran kelangkaannya
·         Sumber daya alam secara fisik diklasifikan menjadi sumber daya alam pulih dan tak tak pulih dan gabungan sumber daya yang menurun kuantitasnya dan tidak dapat diperbaharui dengan teknologi disebut daerah kritis berdasarkan pengelolaannya, pengelompokkan sumber daya dibagi menjadi: pengelolaan oleh swasta untuk kelompok barang pribadi dan pengelolaan untuk pemerintah untuk barang public, perbedaan sumber daya alam pulih dan tak pulih dapat dilihat pula dari aspek penerimaan dan biaya pengelolaan pemberdayaan sumber ` diminta lebih banyak dari yang tersedia, persediaan sumber daya alam diartikan diartikan sebagai volume sumber daya alam yang sudah diketahui dan dapat diambil untuk mendatangkan keuntungan.

  1. Pengelolaan sumber daya alam
·         Pengelolaan sumber daya alam tak tak pulih dalam pengambilan sumber daya alam tak pulih secara optimal, ada 2 syarat yang harus dipenuhi yaitu: harus memperhitungkan biaya alternative dan biaya alternative ini akan selalu meningkat sebesar tingkat bunga yang berlaku. Variable yang lebih diperhatikan dalam pengambilan sumber daya alam tak pulih adalah pola perubahan harga dan produksi daripada royalty.kenaikan harga barang sumber daya alam tak pulih jika tidak ada batasnya, maka akan menyebabkan subtitusi, jika harga meningkat sedang permintaan relative stabil maka jumlah produksinya akan menurun.






 Hal yang harus diperhatikan dalam pengelolaan sumber daya alam tak pulih adalah adanya unsure ketidakpastian, ketidakstabilan dipasar, efisiensi, hasil eksplorai dan permasalahan dalam distribusi dan ketidakadilan.
·         Pengelolaan sumber daya alam pulih secara optimal harus didasarkan pada konsep stedy state. Pengelolaan sumbe daya alam pulih pada umumnya didasarkan pada konsep hasil maksimum yang mantap. Pengelolaan sumber daya alam yang pulih didasarkan pada criteria manfaat biaya dan standar yang memaksimumkan nilai sekarang dari penerimaan bersih menggunakan konsep Optimal Sustainable Yield. Pada sumber daya alam pulih terjadi titik balik karena lingkungan alamiah memiliki daya dukung yaitu jumlah maksimum yang dapat ditampung oleh lingkungan alam. Dengan adanya kepemilikan sumber daya alam secara umum maka akan terjadi kepunahan. Hal ini disebabkan setiap pelaku yang memenfaatkan sumberdaya daya alam tersebut tidak memperhitungkan alternative yang merupakan nilai masa mendatang dari sumber daya alam tersebut

  1. Beberapa cara mengatasi eksploitasi sumber daya alam pulih yang berlebihan
         Yaitu dengan mendefinisikan hak penguasa atau hak milik sumber daya alam, pembatasan peralatan yang digukan untuk pengambilan, pembatasan jumlah sumber daya alam yang diambil.
 
        













  1. Teknologi dan fungsi wiraswasta

1. Pengertian teknologi 
                    Dalam arti biasa teknologi berarti suatu perubahan dalam fungsi yang nampak dalam teknik produksi yang ada. dalam kenyataan, dinegara-negara yang telah maju masih terdapat banyak pabrik-pabrik yang belum menggunakan teknik secara ekonomis maksimum karena mungkin adanya factor-faktor produksi yang relative langka, pasran yang tidak luas, perkembangan yang kurang sempurna, serta halangan-halangan kebudayaan dan sebagainya. Adapun perubahan-perubahab teknik untuk pertumbuhan ekonomi yaitu setiap perubahan dalam metode produksi yang telah digunakan dalam industri atau usaha-usaha lain. Karenanya sama artinya dngan inovasi.

2. Penyebaran teknologi
      Penyebaran teknologi sekarang ini lebih mudah daripada masa lalu.dahulu Setiap tukang punya rahasia sendiri dalam bekerja yang mana hanya diberitahukan kepada kepada kawan-kawan terdekat saja. Pada masa sekarang larangan-larangan semacam itu tidak banyak ditemui. Penguasa atau pemilik pabrik mesin dengan segala senang hati menjual mesin-mesinnya yang baru atau yang modern ke Negara-negara yang membutuhkan dan bahkan mau juga menyediakan tenaga ahlinya sekaligus. Kegiatan yang bersifat komersial ini juga telah dibantu oleh PBB dalam memberikan bantuan-bantuan teknik. Dibidang agrarian, demonstarsi-demonstrasi telah diadakan secara luas dengan maksud untuk menyebarkan teknologi yang lebih baik. Tetapi pada waktu yang sama kesulitan perhubungan masih tetap ada. Kekurangan tenaga ahli di Negara sedang berkembang membatasi penyebaran teknologi. Memang sekarang ini pada umumnya Negara-negara sedang berkembang lebih mudah meniru tingkat teknologi yang lebih tinggi dari Negara-negara yang telah maju. Namun demikian riset itu perlu sekali untuk sedapat mungkin memperbaiki dan menyesuaikan teknologi itu dengan keadaan Negara yang bersangkutan.





3. Fungsi wiraswasta
 Apabila perkembangan ekonomi merupakan hasil penerapan teknologi, maka haruslah ada seseorang atau segolongan orang yang berbuat untuk menerapkan kombinasi-kombinasi baru sumber-sumber produksi untuk kegiatan produksi. Dengan kata lain haruslah ada orang yang membuat keputusan untuk mengganti cara-cara yang lama dengan cara yang baru. Dalam arti luas fungsi wiraswasta harus dapat diartikan dalam segala keadaan masyarakat kapitalis, sosialis,atau pembangunan ekonomi pada umumnya. Dalam arti sempit berarti bahwa sifat dari fungsi itu terbatas pada inovasi.

4.      Tipe-tipe semangat wiraswasta
   Fungsi wiraswasta mengadakan tindakan-tindakan yang menghasilkan kombinasi-kombinasi baru dari factor-faktor produksi dalam proses produktif. Sebenarnya ada beberapa macam tipe wiraswasta berdasarkan atas tindakannya yaitu:
    1. Innovating entrepreneur, biasanya orang ini bersifat agresif dalam percobaannya dan ingin atau tertarik pada kemungkinan-kemungkinan untuk dipraktekkan.
    2. Initiative entrepreneur, ini adalah orang-orang yang siap untuk menggunakan inovasi  yang berhasil yang ditemukan oleh innovating entrepreneur.
    3. Fabian entrepreneur, ini sifatnya penuh hati-hati dan ragu-ragu yang nantinya akan meniru bila inovasi itu jalas menunjukkan sesuatu yang menguntungkan.














    1. Drone entrepreneur, ini sifatnya menolak untuk menggunakan kesempatan dalam mengubah produksimeskipun dengan biaya yang relative lebih rendah dibandingkan dengan produsen lainnya. Ia tidak menjalankan fungsi wiraswasta tetapi bila ia dalam posisi untuk mengadakan inovasi. Ia mengemukakan suatu potensi dan mungkin merubahnya menjadi salah satu type inovasi yang lain apabila ada dorongan yang efektif yang dapat ditemukan.

  1. Terjadinya wiraswasta
             Mengenai banyaknya wiraswasta berhubungan erat dengan motif-motif untuk inoasi yang ada dalam masyarakat. Dalam Negara-negara yang berpendapat riil perkapitanya tidak mengalami kenaikan selama bertahun-tahun maka disitu tidak ada wiraswasta. Bila hanya sedikit wiraswasta, ini menunjukkan tidak kuatnya motif untuk mendorong inovasi menaikkan output dan juga karena adanya kekuatan halangan-halangan yang lebih besar. Bila sudah maju teknologinya maka persoalannya ialah bagaimana memelihara supaya wiraswasta bertambah.

Dari perubahan teknologi dan penggunaan inovasi yang menambah output adalah hubungan dengan kenaikan produktivitas dan proses perkembangan dinegara sedang berkembang, menurut sejarah inovasi itu segera timbul setelah adanya inventasi yang menyebabkan naiknya tingkat hidup. Bagi Negara-negara yang sedang berkembang, kemajuan teknologi ini terhalang oleh karena relative terbatasnya wiraswasta. Sebaliknya tumbuhnya wiraswasta telah tertunda atau lambat karena halangan yang berasal dari keadaan social, adat istiadat, dan perekonomiannya, bersama-sama dengan tiadanya insentif-insentif yang cukup untuk menutup halangan-halangan itu. Peranan pemerintah dalam mendorong inovasi adalah penting, artinya bahwa pemerintah harus memberikan dorongan yang kuat dan secara luas. 





Bagan Unsur-unsur perkembangan ekonomi


Unsur perkembangan
Perubahan struktur
                                               
                
 

  Hambatan
                                                          
                             

     SDA
    SDM
   MODAL

INOVASI

 




Unsur perkembangandari SDA, SDM dan Modal melahirkan inovasi, jika tidak ada inovasi maka akan terjadi perubahan struktur dan hambatannya.

  1. Hambatan-hambatan yang paling utama dalam unsur-unsur perkembangan ekonomi

1.      Lingkaran kemiskinan
2.      Sosial budaya
3.      Tingkat pertumbuhan dan modal rendah
4.      Doktrin internasional






BAGIAN 7
3.1.                      Peranan Sumber Daya Alam dan Sumber Daya Manusia Terhadap Pembangunan Ekonomi
Selain Faktor modal dan kemajuan teknologi  adapun faktor sumber daya alam dan sumber daya manusia yang sangat menentukan keberhasilan pembangunan ekonomi suatu Negara. Sumber daya alam yang dimiliki oleh suatu Negara merupakan anugerah yang perlu disyukuri, sebab tidak semua Negara memiliki kekayaan sumber daya alam yang melimpah dan lengkap. Sumber daya alam seperti hutan dengan segala isinya, hasil pertambangan sudah sewajarnya digunakan untuk kepentingan dan kemakmuran masyarakatnya. Dalam konsep pembangunan yang berkelanjutan, sumber daya alam yang memiliki nilai ekonomis tinggi hendaknya tidak dieksploitasi. Sebab keberadaannya perlu dipikirkan untuk generasi yang akan datang. Jangan sampai hasil hutan dijarah habis sehingga mengakibatkan hutan gundul dan pada gilirannya dapat menyebabkan banjir dan tanah longsor. Oleh karena itu pengelolaan sumber daya alam haruslah dilakukan secara bertanggung jawab. Artinya harus dilakukan secara bijaksana untuk melestarikan persediaan sumber daya alam tersebut, sehingga generasi sekarang dan mendatang dapat menikmatinya. Pengelolaan sumber daya alam haruslah sedemikian rupa, sehingga sumber daya alam itu selalu dapat ditingkatkan persediaannya melalui usaha eksplorasi dan eksploitasi, peningkatan efisiensi proses produksi serta dengan bantuan teknologi untuk dapat meningkatkan proses daur ulang. Berdasarkan hal tersebut diatas, dalam pengelolaan sumber daya alam diperlukan suatu kebijakan yang bertanggung jawab.
Penduduk, masyarakat atau istilahnya sumber daya manusia merupakan aset penting dalam pembangunan mengingat penduduk sebagai agent of development, sehingga tidaklah berlebihan bila dikatakan berhasil tidaknya pembangunan ditentukan oleh sikap penduduk selama proses pembangunan berlangsung.
Sumber daya manusia sebagai agent of development, pelaksana dan penentu berhasil tidaknya pembangunan. Sumber daya manusia merupakan faktor produksi dalam proses pembangunan, sehingga bentuk dan sistem yang ada merupakan produk dari sumber daya manusia yang dimiliki. Sumber daya manusia yang handal merupakan asset dalam pembangunan. Permasalahan muncul apabila sumber daya manusia yang dimiliki sangat terbatas dengan kualitas yang sangat rendah. Di Negara sedang berkembang pada umumnya sumber daya manusia yang dimiliki melimpah dengan kualitas yang rendah. Dengan kondisi seperti ini jelas sangat menghambat proses pembangunan. Oleh karena itu perlu adanya manajemen sumber daya manusia yang baik.  Manusia merupakan sumber daya yang paling penting bagi suatu organisasi dalam usaha untuk mencapai tujuannya. Berapun sempurnanya aspek teknologi dan keuangan, tampa didukung oleh manusianya, maka tujuan organisasi akan sulit dicapai. Atas dasar itulah maka faktor sumber daya manusia perlu dibina dan dikembangkan.
Untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusianya, maka diperlukan suatu strategi pembangunan sumber daya manusia. Salah satu strategi pengembangan sumber daya manusia baik itu perusahaan ataupun pemerintahan adalah pengembangan sistem pendidikan dan pelatihan yang sesuai, pengembangan sistem penilaian prestasi kerja dan sistem pemberian imbalan, mengefektifkan pelaksanaan rekrutmen dan seleksi, perencanaan anggaran untuk sumber daya manusia serta membina hubungan dan komunikasi karyawan.
Modal manusia dapat menjadi sumber daya manusia yang handal dalam pembangunan apabila kualitasnya tinggi. Dalam hal ini sumber daya manusia dalam pembangunan memiliki peranan penting dalam kaitannya untuk meningkatkan kualitas pembangunan dan menjaga kelangsungan pembangunan itu sendiri. Era informasi dan teknologi yang berkembang dewasa ini semakin membuktikan bahwa penguasaan teknologi yang baik akan berdampak pada kualitas maupun kuantitas pembangunan itu sendiri. Agar teknologi dapat dikuasai, maka dibutuhkan sumber daya manusia yang berkualitas.
Guna mencapai sumber daya manusia yang berkualitas, maka dibutuhkan beberapa upaya diantaranya adalah dengan melakukan pengembangan sumber daya manusia. Beberapa upaya untuk mengembangkan sumber daya manusia, diantaranya adalah terdapatnya pendidikan yang diorganisasikan secara formal pada tingkat dasar, menengah dan pendidikan pada tingkat tinggi. Mamfaat dari adanya pendidikan bagi pembangunan ekonomi bagi suatu bangsa secara umum dapat menciptakan tenaga kerja yang lebih produktif, karena adanya peningkatan pengetahuan dan keahlian dan tersedianya kesempatan kerja yang lebih luas.
















BAGIAN 8
.      Kebijakan dan Strategi Pembangunan.
Kebijakan ekonomi adalah beberapa peraturan atau batasan-batasan di bidang ekonomi yang dikeluarkan oleh pemerintah. Tujuan dibuatnya kebijakan ekonomi adalah untuk meningkatkan taraf hidup atau tingkat kesejahteraan masyarakat. Selain kebijakan ekonomi diperlukan juga kebijakan nonekonmi, seperti kebijakan sosial yang menyangkut masalah pendidikan dan kesehatan. Kebijakan ekonomi dibagi menjadi 3 macam, yaitu:
1)      Kebijakan Mikro.
Kebijakan mikro adalah kebijakan pemerintah yang ditujukan pada semua perusahaan tanpa melihat jenis kegiatan yang dilakukan oleh atau disektor mana  dan diwilayah mana perusahaan yang bersangkutan beroperasi.
Contoh kebijakan pemerintah :
a)      Peraturan pemerintah yang mempengaruhi pola hubungan kerja (manajer dengan para pekerja), kondisi kerja dalam perusahaan.
b)      Kebijakan kemitraan antara perusahaan besar dan perusahaan kecil di semua sektor ekonomi.
c)      Kebijakan kredit bagi perusahaan kecil di semua sektor dan lain-lain.
d)     Menetapkan harga minimum dan maksimum untuk melindungi produsen atau konsumen.
2)      Kebijakan Meso.
Kebijakan Meso di bagi menjadi 2 arti yaitu :
1.        Kebijakan ekonomi meso dalam arti sektoral adalah kebijakan ekonomi yang khusus ditunjukan pada sektor-sektor tertentu. Setiap departemen pemerintah mengeluarkan kebijakan sendiri, yang bisa sama / berbeda, untuk sektornya. Kebijakan ini mencangkup keuangan, distribusi, produksi, tata niaga, sistem pengadaan bahan baku, ketenagakerjaan, termasuk system penggajian, investasi, jaminan sosial bagi bekerja dan sebagainya.
2.        Kebijakan ekonomi meso dalam arti regional adalah kebijakan ekonomi yang ditunjukan pada wilayah tertentu. Misalnya, kebijakan industri regional dikawasan timur Indonesia (KTI) yang menyangkup kebijakan industry regional, kebijakan investasi regional, kebijakan fiscal regional, kebijakan pembangunan infrastruktur regional, kebijakan pendapatan, dan pengeluaran pemerintah daerah,kebijakan distribusi pendapatan regional, kebijakan pendapatan, kebijakan perdagangan regional, dan sebagainya. Kebijakan ekonomi regional bisa dikeluarkan oleh pemerintah pusat maupun pemerintah daerah.
3)        Kebijakan Makro.
Kebijakan ini mencakup semua aspek ekonomi pada tingkat nasional, misalnya kebijakan uang ketat (kebijakan moneter). Kebijakan makro ini bisa mempengaruhi kebijakan meso (sektoral atau regional), kebijakan mikro menjadi lebih atau kurang efektif. Instrumen yang digunakan untuk kebijakan ekonomi makro adalah tarif pajak, jumlah pengeluaran pemerintah melalui APBN, ketetapan pemerintah dan intervensi langsung di pasar valuta untuk mempengaruhi nilai tukar mata uang rupiah terhadap valas. (Tulus Tambunan, 1996).

Untuk menjalankan kebijakan yang sudah dijelaskan tersebut harus disusun strategi tertentu. Berikut ini strategi pembangunan ekonomi di Indonesia.
1.      Mengembangkan koridor pembangunan ekonomi Indonesia dengan cara membangun pusat-pusat perekonomian di setiap pulau. Selain mengembangkan klaster industri berbasis sumber-sumber superior. Baik komoditas maupun sektor. Koridor pembangunan ekonomi Indonesia terbagi dalam empat tahap :
1)      Mengindentifikasikan pusat-pusat perekonomian, misalnya ibukota provinsi.
2)      Menentukan kebutuhan pengubung antara pusat ekonomi tersebut, seperti trafik barang.
3)      Validasi untuk memastikan sejalan dengan pembangunan nasional, yakni pengaturan area tempat tinggal dengan sistem infrastruktur serta fasilitas.
4)      Menentukan hubungan lokasi sektor fokus, guna menunjang fasilitas. Misalnya menghubungkan area pertambangan dengan kawasan pemrosesnya.
2.      Memperkuat hubungan nasional baik secara lokal maupun internasional. Hal ini bisa mengurangi biaya transaksi, menciptakan sinergi antara pusat-pusat pertumbuhan dan menyadari perlunya akses-akses ke sejumlah layanan. Seperti intra dan inter-konektivitas antara pusat pertumbuhan serta pintu perdagangan dan pariwisata internasional. Integrasi ekonomi merupakan hal terbaik untuk mencapai keuntungan langsung dari konsentrasi produksi. Serta dalam jangka panjang, meningkatkan standar kehidupan.
Saat ini, aktivitas ekonomi Indonesia terpusat di kota-kota, khususnya Jawa dan Sumatra. Fasilitas transportasi yang bisa menyebabkan area industri tak menjangkau pelosok. Pada jangka pendek, proyek-proyek yang perlu dibangun di Jawa adalah TransJawa, TransJabodetabek, kereta jalur dua, Tanjung Priok. Pembangunan tersebut diharapkan bisa berdampak langsung mengurangi kemiskinan di Jawa yang melebihi 20 juta jiwa, dua kali populasi miskin Sumatra yang sekitar tujuh juta jiwa. Pembangunan infrastruktur di Jawa bisa mempercepat pertumbuhan ekonomi.
3.      Mempercepat kapabilitas teknologi dan ilmu pengetahuan nasional atau Iptek. Selain tiga strategi utama ini, juga ada beberapa strategi pendukung seperti kebijakan investasi, perdagangan dan finansial. Beberapa elemen utama di sektor Iptek adalah meningkatkan kualitas pendidikan termasuk pendidikan kejuruan tinggi serta pelatihannya. Meningkatkan level kompetensi teknologi dan sumber daya ahli. Peningkatan aktivitas riset dan pengembangan, baik pemerintah maupun swasta, dengan memberikan insentif serta menaikkan anggaran. Kemudian mengembangkan sistem inovasi nasional, termasuk pembiayaannya. Saat ini, masalah utama yang dihadapi adalah kemampuan riset dan pengembangan yang digunakan untuk mencari solusi teknologi. Kemampuan pengguna untuk menyerap teknologi yang ada. Serta transaksi antara riset dan pengembangan sebagai pemasok solusi teknologi dengan penggunanya tak terbangun dengan baik. 





BAGIAN 9
. Pengertian Pemerataan Pendapatan
            Pemerataan pendapatan (redistribusi pendapatan/ distribution of income) merupakan usaha yang dilakukan oleh pemerintah agar pendapatan masyarakat terbagi semerata mungkin diantara warga masyarakat. Pengertian merata di sini tidak berarti bahwa semua warga masyarakat pendapatannya dibuat sama, tetapi kesempatan yang sama bagi setiap warga untuk memperoleh pendapatan.
2. Tujuan dan ukuran pemerataan pendapatan
Tujuan dari pembangunan adalah kemakmuran bersama. Pemerataan hasil pembangunan dan pertumbuhan ekonomi yang tinggi untuk menciptakan kemakmuran bersama merupakan tujuan pembangunan yang ingin dicapai. Tingkat pertumbuhan yang tinggi tanpa disertai pemerataan pembangunan hanyalah menciptakan perekonomian yang lemah dan eksploitasi sumber daya manusia yang tinggi untuk menciptakan kemakmuran bersama. Dari segi pendidikan, Indonesia masih mengalami masalah ketidakmerataan pendidikan. Rendahnya tingkat pendidikan akan mengakibatkan rendahnya produktivitas dan berakibat pula pada rendahnya tingkat pendapatan. Kesenjangan tingkat pendidikan mengakibatkan adanya kesenjangan tingkat pendapatan yang semakin besar. Pemerataan hasil pembangunan perlu diupayakan supaya pembangunan dapat dirasakan oleh seluruh rakyat Indonesia. Pemerataan pendidikan dan pemerataan fasilitas kesehatan merupakan salah satu upaya penting yang diharapkan meningkatkan pemerataan hasil pembangunan dengan menciptakan sumber daya manusia yang berkualitas. Dan banyak hal yang dapat dilakukan oleh pemerintah sebagai upaya untuk meningkatan pertumbuhan dan pemerataan pembangynan Indonesia, sebagai contoh dengan mengefisiensikan penerimaan pajak, meningkatkan perdagangan dengan luar negeri, meningkatkan investasi langsung dan lain sebagainya. Tujuan dari pemerataan pendapatan ini adalah agar tidak terjadi ketimpangan pendapatan dalam masyarakat sehingga dapat menimbulkan keresahan dan kecemburuan sosial yang pada akhirnya dapat mengganggu stabilitas nasional.
Ukuran pokok distribution of income dapat dibedakan menjadi 2 (dua) yaitu:
1. The size distribution of income (The personal distribution of income)
Pengukuran atas dasar ini biasanya dilakukan oleh ahli ekonomi. Cara mengukurnya adalah masing-masing individu dicatat penghasilan per tahunnya dari sejumlah individu yang diteliti secara sampling. Penghasilan dinyatakan dalam satuan uang. Kemudian dikelompokkan berdasar urutan penghasilan dari terendah sampai tertinggi. Dari hasil pengelompokan tersebut akan diketahui kelompok golongan berpenghasilan rendah memperoleh berapa persen dari seluruh penghasilan nasional dan kelompok golongan paling kaya memperoleh berapa persen, selanjutnya dapat diketahui ada ketimpangan atau tidak.
2. The functional distribution of income (share distribution)
Ukuran ini menjelaskan tentang bagian pendapatan yang diterima oleh setiap faktor produksi (berapa yang diterima oleh buruh (upah), pengusaha (keuntungan), pemilik tanah (sewa), pemilik modal (bunga/jasa) sesuai dengan fungsi masing-masing faktor produksi)
3. Cara meratakan distrbusi pendapatan
Beberapa negara maju kerap kali dinamakan sebagai “negara kemakmuran” atau yang biasa disebut dengan welfare state. Dinamakan demikian karena negara-negara itu membuat kebijakan-kebijakan yang bertujuan untuk lebih meningkatkan pemerataan pendapatan masyarakatnya, sehingga perbedaan di antara golongan masyarakat yang sangat kaya dengan yang sangat miskin tidak begitu nyata. 
Tujuan itu dicapai terutama dengan menggunakan alat-alat kebijakan fiskal. Alat-alat kebijakan fiskal tersebut adalah:
a.       Menjalankan sistem pajak yang bersifat progresif
Pajak progresif adalah sistem pajak di mana tingkat pajak yang harus di bayar menjadi bertambah besar apabila pendapatan menjadi bertambah tinggi. Sebagai contoh, apabila pendapatan seseorang $ 10 juta setahun tingkat  pajaknya adalah 10 persen dari pendapatan itu,  tetapi apabila pendapatannya adalah $ 20 juta setahun tingkat pajaknya menjadi 20 persen, maka sistem pajak seperti ini dinamakan sistem pajak progresif.
Di banyak negara, sistem pajak yang selalu digunakan adalah sistem pajak progresif. Maka makin besar pendapatan, makin besar pula bagian dari pendapatan itu yang akan digunakan untuk membayar pajak. Oleh karenanya pendapatan yang boleh digunakan untuk membiayai perbelanjaan yang dibuat oleh penerima pendapatan itu adalah jauh lebih kecil dari pendapatannya yang sebenarnya. Dengan cara ini jurang perbedaan pendapatan di antara golongan masyarakat yang berpendapatan tinggi dan golongan masyarakat yang berpendapatan rendah dapat dikurangkan.
b.      Melakukan perbelanjaan yang bersifat membantu  golongan masyarakat yang sangat miskin, yaitu memberikan bantuan (subsidi) kepada golongan masyarakat tersebut.
Di samping dengan menggunakan sistem pajak progresif, usaha untuk mengembangkan pendapatan dalam masyarakat dilakukan pula dengan melakukan perbelanjaan pemerintah yang bersifat membantu golongan-golongan masyarakat yang sangat miskin. Perbelanjaan demikian dinamakan “perbelanjaan kebajikan” (welfare expenditure). Tujuannya ialah untuk memberikan bantuan keuangan kepada golongan penduduk yang sangat miskin sehingga mereka dapat menikmati kehidupan yang lebih baik. Perbelanjaan kebajikan ini terutama dilakukan di negara-negara yang sudah sangat maju seperti Amerika Serikat, Inggris, Negeri Belanda dan Jerman Barat.
Perbelanjaan kebajikan yang silakukan pemerintah dinamakan pembiayaan  pindahan, yaitu bayaran yang dilakukan  pemerintah di mana si penerima bayaran itu tidak perlu memberikan barang dan jasa sebagai balasannya. Dengan perkataan lain, perbelanjaan kebajikan pemerintah (pembayaran pindahan) itu merupakan bantuan atau pemberian kepada orang-orang yang memerlukan tersebut.
c.       Memberikan bantuan yang bersifat mendorong ke arah meningkatnya kualitas manusia seperti beasiswa dan pembangunan sekolah-sekolah.
Teknik lain yang bisa dugunakan selain melalui kebijakan fiskal adalah:
1.      Transfer Uang Tunai
Transfer uang tunai merupakan pemberian subsidi berupa uang tunai kepada orang yang termasuk berpenghasilan rendah. Model transfer tunai dapat dibedakan menjadi 3 (tiga) macam, yaitu:
a.       Model pajak pendapatan negatif (Negative Income Tax)
b.      Model demogrant
c.       Model Subsidi Upah (Wages Rate Subsidies)
2.      Transfer Uang Dan Barang
Dalam realisasinya, transfer uang tunai sebagaimana tersebut di atas, dapat juga diberikan sebagian dalam bentuk barang. Hal ini dimaksudkan untuk meminimalisir penyimpangan maksud pemberian subsidi yang sesungguhnya.

3.      Pprogram Kesempatan Kerja (PEP).
Kesempatan kerja merupakan hal yang sangat didambakan bagi orang yang belum bekerja. Pemerintah harus menyediakan lapangan kerja dengan tingkat upah tertentu. Tetapi dalam kenyataan program penciptaan kesempatan kerja pada sektor pemerintah maupun swasta di negara berkembang bahkan di negara maju sekalipun mengalami kesulitan. Di beberapa negara maju, mereka yang menganggur mendapat tunjangan atau subsidi.
4. Konsep Distribusi Pendapatan
Distribusi pendapatan nasional menggambarkan merata atau timpangnya pembagian hasil pembangunan suatu negara di kalangan penduduknya. Distribusi pendapatan nasional akan menentukan bagaimana pendapatan nasional yang tinggi akan mampu menciptakan perubahan-perubahan dan perbaikan-perbaikan dalam masyarakat. Distribusi pendapatan nasional yang tidak merata, tidak akan menciptakan kemakmuran bagi masyarakat secara umum.
Terdapat berbagai kriteria atau tolok ukur untuk menilai kemerataan distribusi pendapatan nasional, tiga diantaranya yang paling lazim digunakan ialah:
a.       Kurva Lorenz
Kurva Lorenz menggambarkan distribusi kumulatif pendapatan nasional di kalangan lapisan-lapisan penduduk secara kumulatif juga. Selain itu kurva ini juga memperlihatkan hubungan kumulatif aktual antara persentase jumlah penduduk penerimaan pendapatan tertentu dari total penduduk dengan persentase pendapatan yang benar-benar mereka peroleh dari total pendapatan selama, misalnya satu tahun.
b.      Indeks atau Rasio Gini
Adalah suatu koefisien yang berkisar antara angka 0 hingga 1 (0<G<1). Rasio Gini ini menjelaskan tentang kadar kemerataan (ketimpangan) distribusi pendapatan nasional. Semakin kecil koefisiennya (mendekati nol) maka pertama semakin baik atau merata distribusinya, sebaliknya apabila koefisiennya semakin besar (mendekati angka 1) maka distribusinya kian timpang atau senjang.
Perhitungan Rasio Gini juga dapat dilakukan dengan cara matematik dengan rumus:
                            n
            KG= 1 – å   (Xi+1 – Xt)(Yt + Yt+1)
                                      1
KG = Angka Koefien Gini
X = Proporsi jumlah rumah tangga kumulatif dalam kelas i
Fi = Proporsi jumlah rumah tangga dalam kelas I
Yi= Proporsi jumlah pendapatan rumah tangga kumulatif kelas I
c.       Kriteria Bank Dunia
Kriteria ketidakmerataan versi Bank Dunia didasarkan atas porsi pendapatan nasional yang dinikmati oleh tiga lapisan penduduk.
Kriteria bank dunia mendasarkan penilaian distribusi pendapatan atas pendapatan yang diterima oleh 40% penduduk berpendapatan terendah. Kesenjangan distribusi pendapatan dikategorikan:
·         Tinggi: bila 40% penduduk penghasilan terendah menerima kurang dari 12% bagian pendapatan.
·         Sedang: bila 40% penduduk berpenghasilan terendah menerima 12 hingga 17% bagian pendapat.
·         Rendah: bila 40% penduduk berpenghasilan terendah menerima lebih dari 17% bagian pendapatan.







BAGIAN 10




Tidak ada komentar:

Posting Komentar